Sunday, March 31, 2013

[Sinopsis K-Movie] Introduction to Architecture (Part 2)




Sekarang, Seung Min sedang memandang Seo Yeon sama dengan tatapan seperti waktu itu. Seo Yeon masih belum cocok dengan desain yang dibuat Seung Min, menurutnya masih teras asing. Seung Min bilang tentu saja terasa asing, karna itu dibuat baru. Lalu sekertaris smein mengusulkan untuk membangun ulang saja (merenovasi) rumah itu. Seung Min yang awalnya tidak setuju, akhirnya mengalah dengan memberikan alternatif penambahan ruangan pada Seo Yeon.



Seo Yeon berada di sebuah butik, dan membeli dasi, sepertinya untuk diberikan kepada Seung Min. Dan selanjutnya setelah ia merias diri, dia bertemu dengan Seung Min yang membawa serta sekertarisnya. Sepertinya awalnya mereka akan bertemu berdua saja. Lalu Seo Yeon menanyakan kapan pembangunan rumahnya bisa selesai. Dalam dua bulan bisa selesai asalkan tidak ada perubahan lagi dari Seo Yeon, ujar Seung Min. Seo Yeon tersenyum malu.
Seo Yeon menanyakan apakah Seung Min punya pacar, “maukah aku mengenalkan beberapa perempuan padamu? Beritahu aku apa tipe wanitamu?.  Seung Min menjawab, “Cantik dan baik hati.” Seo Yeon bilang bagaimana mungkin ada tipe yang sekaligus seperti itu. Seung Min bilang tentu saja ada. Bayangkan ada 10 wanita cantik sekaligus yang paling baik hati diantara mereka, pasti cantik dan baik hati.
“Lalu yang jarang seperti itu akan ada yang menyukaimu?” sanggah Seo Yeon. Sekertaris Seo Yeon tertawa, Seo Yeon dan Seung Min menoleh ke arahnya. Seung Min pun keluar untuk menerima telpon dari atasannya.
Seo Yeon bertanya pada Eun Chae (ini nama sekertarisnya Seung Min, selanjutnya disebut namanya aja ya), apakah Eun Chae tidak punya pacar. Eun Chae bilang dia akan menikah. Seo Yeon pun bertanya kapan dia akan menikah. Awal tahun depan, atau paling cepat akhir tahun ini, jawab Eun Chae. Seo Yeon terlihat ikut gembira dan memberikan ucapan selamat.

“Setelah menikah kami akan pergi ke Amerika. Aku akan sekolah lagi, dan oppa akan bekerja.” Jelas Eun Chae.
“Orang itu seperti mendapatkan hadiah pertama, Nona Eun Chae sangat cantik.”
“Benarkah?” Tanya Eun Chae, dan keduanya tertawa bersama.
Seung Min datang dan menanyakan apakah ada yang lucu. “Kami membicarakan sesuatu tentangmu. Bahwa kau memenangkan hadiah pertama.” (jadiii,, Eun Chae ini pacarnya Seung Min tohhh…)


Seo Yeon terlihat bingung. Akhirnya dia tahu, memang benar Eun Chae dan Seung Min pacaran, tapi tidak ada yang tahu, orang kantor pun tidak ada yang tahu, Eun Chae hanya memberitahukan pada Seo Yeon. Dan Eun Chae pun bertanya pada Seo Yeon, apakah dia tahu siapa cinta pertama Seung Min sewaktu kuliah dulu di tahun pertama.
Seo Yeon pura-pura tidak tahu dan bertanya pada Seung Min siapa orang itu. “iya, siapa orang itu, yang katamu pantas mati.” Ujar Eun Chae. Seo Yeon terpana, kaget, mada dia pantas mati (mungkin gitu kali ya dipikirannya.) dan Seung Min pun terlihat tidak  nyaman.



Seo Yeon berada di RS, berbicara pada ayahnya mengenai rumah yang hendak direnovasi. Dan Seung Min berada di dalam taksi sedang beradu arumen dengan Eun Chae mengenai rencana mereka nanti setelah di Amerika. Seung Min menatap keluar jendela. Dan flashback lagi….

Flashback



Seung Min sedang mengerjakan tugas di rumah Jae Uk. Dia dan temannya mengagumi computer yang baru di beli Jae Uk, Pentium 1 Gb. “1 Gb? 1000 Mb? Walaupun kaun menggunakannya seumur hidup, tak akan pernah habis!” ujar Seung Min takjub. (weeww, mas broo, download beberapa film aja udah habis itu… hehe)
Kemudian mereka membahas tentang wanita, dan Seo Yeon. Menurut Jae Uk, Seo Yeon itu sangat cantik, namun tidak terlihat karena tidak memakainmake up, tapi nanti di tahun kedua pasti terlihat lebih cantik. Jae Uk sepertinya menyukai Seo Yeon. Seorang teman Seung Min menemukan sebuah stoking milik perempuan, dan menanyakan pada Jae Uk kepunyaan siapakah stoking itu. Jae Uk tidak menjawab, hanya memberikan saran untuk mendapatkan seorang gadi, pertama-tama ajak mereka ke klub, berikan minuman sampai mereka mabuk, lalu bawa ke tempat tidur.

Seung Min pulang ke toko ibunya, setelah makan dia pun menuju ke rumahnya. Kemudian dia bertemu Seo Yeon yang habis membeli barang, dan meminta dibawakan barang bawaannya pada Seung Min. Seo Yeon mengajak makan pada Seung Min, makan di toko ibunya Seung Min. Tapi Seung Min menolaknya dengan alasan tidak menyukai makanan yang dijual disitu. Padahal sebenarnya kayaknya Seung Min takut ketahuan itu ibunya oleh Seo Yeon, atau dia malu pada ibunya karena bersama seorang gadis, hehe..






Seo Yeon dan Seung Min masuk ke rumah kosong yang waktu itu pernah mereka datangi. Rumah itu sudah terlihat rapi dan bersih. Seo Yeon yang merapikannya pada akhir pecan. Dan dia memutuskan akan tinggal disana untuk seterusnya. Seo Yeon juga menanam bunga. Seung Min penasaran, bunga apa yang bisa tumbuh di musin gugur seperti sekarang ini. Tapi Seo Yeon tidak mau memberitahu.


Seo Yeon dan Seung Min bersama-sama menanam bunga. Setelah lama bertanya macam-macam, termasuk apakah Seo Yeon pernah ke rumahnya Jae Uk yang dijawab tidak oleh Seo Yeon, akhirnya Seung Min bertanya apakah Seo Yeon punya pacar, karena Seo Yeon sangat terkenal. Seo Yeon bilang, kenapa dia harus memerlukan seorang pacar. Seo Yeon pun bertanya balik pada Seung Min, apakah Seung Min sudah punya pacar. Seung Min bilang dia juga tidak punya pacar. “Kau sendiri tidak punya pacar, kenapa menanyakan tentang itu padaku. Bagaimanapun juga yang paling popular tetap oppa Jae Uk. Di klub kami, tak ada gadis yang tak menyukainya.” Kata Seo Yeon. Seung Min bertanya lagi, mengapa Jae Uk begitu popular. Seo Yeon menjawab, “Tinggi, kaya dan tampan. Selain itu dia dari jurusan arsitektur. Aku rasa mereka yang dari arsitektur semuanya sangat tampan.”
Dengan semangat Seung Min langsung berkata, “Aku juga dari jurusan arsitektur.” Dan akhirnya Seung Min mengetahui bahwa Seung Min mengambil mata kuliah pengantar arsitektur karena menyuki Jae Uk. Tapi Seo Yeon bilang, itu hanya perasaan sepihak, karena sepertinya Jae Uk tidak menyukainya.


Seung Min sedang minum bersama Nap Tteuk. Seung Min menanyakan tentang pacarnya Nap Tteuk. Kemudian dia pun bertanya apa pendapat Nap Tteuk mengenai temannya, “Ada laki-laki dan perempuan. Awalnya tidak kenal sama sekali, kemudian  menjadi dekat dengan cepat, dan saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?” (padahal mah Seung Min nanya tentang dia sendiri tuh..) dan Nap Tteuk juga tau, kalo itu sebenarnya Seung Min..

Setelah berfikir, Nap Tteuk memberikan saran pada Seung Min. Seung Min disuruh minum soju dulu, setelah mabuk datangi rumah Seo Yeon dan minta dia keluar, kemudian setelah keluar baru bilang kalau Seung Min menyukainya. Seung Min terlihat bingung, tapi kemudian dia memeluk Nap Tteuk dan mengucapkan terimakasih. Lalu Seung Min bilang pada Nap Tteuk, Seo Yeon itu lucu, Seo Yeon itu sangat cantik. Kemudian Seung Min meneriakkan nama Seo Yeon berulang-ulang sambil tersenyum bahagia, dan Nap Tteuk sibuk untuk mengehntikannya. (tengah malem ini ceritanya..)

Flashback end..



Seo Yeon dan Seung Min sedang berada di rumah Seo Yeon yang direnovasi, dan Seo Yeon merasa kalau yang dikerjakan sekarang bukan seperti yang dia mau. Tapi Seung Min bilang kalau semua dikerjakan seperti kemauan Seo Yeon, memang tidak bisa hanya dilihat dari skersa saja. Tapi Seo Yeon tetap protes, rungan yang lebih kecil dari yang diharapkan, jendela yang terlalu kecil. Seo Yeon melihat ke sekeliling dengan kurang puas. Seung Min yang menjelaskannya pun menjadi kesal, “Bukankah kau sudah lihat sketsa dan bilang tak apa-apa? Sama sekali tak ada perubahan yang diijinkan.”
“Apa aku mengatakan sesuatu? Ini tidak terlalu jelek. Aku menyukainya.” Ujar Seo Yeon menyangkal dan pergi.

Seo Yeon dan Seung Min berjalan di sekitar sekolahan, berselisih di masa lalu siapa yang mengatakan dan tidak mengatakan setelah mulai turun salju, Seung Min akan menemui Seo Yeon. Seo Yeon ingat dengan jelas bahwa Seung Min mengatakan itu. Seung Min tetap menyangkalnya dengan mengatakan, dia tidak bisa bilang sesuatu yang kekanak-kanakan seperti itu.
Kemudian Seo Yeon bertanya, apakah yang Seung Min maksud itu dia, cinta pertama Seung Min yang harus mati. Seung Min dengan salah tingkah menyangkalnya, bukan Seo Yeon, bahkan mereka tidak punya hubungan apapun.
“Benar itu bukan aku? Tapi kenapa aku merasa itu aku. Wanita yang pantas mati. Ini benar-benar aneh.”
“Kenapa kau merasa itu dirimu? Kau aneh, benar-benar aneh.” Seung Min pun pergi.


Seung Min dan Seo Yeon berada di bandara akan kembali ke Seoul. Seung Min menerima telpon dari ibunya, membicarakan toko ibunya yang akan dibangun kembali. Seo Yeon mengkritik cara bicara Seung Min yang agak kasar terhadap ibunya. Seung Min bilang dia merasa frustasi dengan pembanguna toko kembali itu. Seo Yeon bilang, orang tua tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik, jadi Seung Min harus lebih baik terhadap ibunya. Seung Min yang tersinggung dengan ucapan Seo Yeon bilang, “Apa yang kau tahu, kau punya uang dan waktu, dan kau tinggal sendiri. Jadi itu alasanmu berkata begitu tajam?” Seung Min pergi meninggalkan Seo Yeon.

“Bagaimana kau tahu, kalau aku hidup sendiri?” pertanyaan Seo Yeon menghentikan langkah Seung Min. Seo Yeon tidak mau mendengar penjelasan Seung Min, dia pun meyuruh Seung Min pergi duluan. Seung Min mengejar akan menjelaskan, tapi Seo Yeon bilang itu memalukan. (Seo Yeon dari awal tidak pernah bilang kalu dia sudah bercerai)
 
Akhirnya Seung Min dan Seo Yeon minum bersama di restoran samping dermaga. Seung Min bertanya apa Seo Yeon marah. Seo Yeon tidak menjawab, dan bertanya darimana Seung Min tahu kalau dia sekarang sendiri. Seung Min bilang Seo Yeon tidak pernah menyebutkan suaminya ketika mereka sedang membahas desin rumah itu, jadi dia pikir Seo Yeon tidak lagi bersama suaminya, itu hanya perkiraannya.
“Awalnya itu bukan sebuah kebohongan. Kami berpisah. Kami menandatangani surat perceraian sebulan yang lalu. Aku mati-matian menahannya, tak mudah bagiku untuk menyerah padanya.”
“mengapa kau menahannya?”
“Lalu apa yang harus ku makan? Selain itu, pengacaraku juga bilang semakin lama aku menahannya, semakin banyak yang ku peroleh darinya. Itu berkat aku bertahan lama, aku bisa membangun rumah disini.” Seo Yeon terdiam, lalu melanjutkan, “Kepribadianku sangat buruk, kan? Aku benar-benar seorang wanita yang pantas mati, kan?” tapi Seo Yeon tidak punya pilihan lain, itu prinsip di dunia ini, orang hidup semuanya sama.
Ketika sup pedas yang mereka pesan sudah siap, Seo Yeon pun mengomentari sup itu. Sebuah sup didalamnya ada telur maka disebut sup telur, ketika didalamnya daging maka disebut sup daging, dan ketika didalamnya tulang iga maka disebut sup tulang iga. Tapi sup pedas, apapun yang dimasukkan kedalamnya, tetap saja namanya sup pedas. Seo Yeon merasa dirinya sama seperti sup pedas itu.




Seung Min menghubungi Eun Chae, memberitahu kalau dia tidak pulang ke Seoul malam ini karna ada urusan mendadak, dia akan pulang dengan penerbangan besok pagi.  Sedangkan Seo Yeon terus minum dan minta sebotol soju lagi pada pelayan. Seung Min melarangnya karena Seo Yeon sudah minum banyak. Tapi Seo Yeon tidak mau. Seung Min menyuruh Seo Yeon bangun dari duduknya, Seo Yeon pun terjatuh. Seung Min mengomel mengapa Seo Yeon minum soju begitu banyak. Tangan Seo Yeon terluka, Seung Min bilang tidak apa-apa nanti juga sembuh setelah diobati. Seo Yeon tiba-tiba mengucapkan kata-kata makian yang sepertinya ditujukan kepada mantan suaminya. Seung Min memeluk dan menepuk-nepuk punggung Seo Yeon menenangkanya.

Flashback…
Dosen memberikan tugas, “Tugas untuk minggu ini adalah.. dimana kamu ingin tinggal. Pergilah ke suatu tempat bagus dan bermain. Bukankah cuacanya sangat bagus akhir-akhir ini?


Seo Yeon dan Seung Min berjalan beriringan di rel kereta api, di pinggirnya, sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan.  Seung Min terjatuh. Seo Yeon tertawa senang dan memukul Seung Min berkali-kali. Mereka berada di sebuah stasiun.
Seo Yeon berkata kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya. Seung Min terkejut, dia bertanya lagi untuk meyakinkan. “hari ini?”
“ya, hari ini. 11 november. Ingat itu. 11 11.” Jawab Seo Yeon.
Seung Min berkata, jika hari ini ulang tahun Seo Yeon, Seo Yeon harusnya berpesta bersama teman-temannya. “Bukankah kamu temanku. Bagaimana kalau kita mengadakan pesta?” usul Seo Yeon.


Seung Min dan Seo Yeon bersulang di warung makan dekat stasiun. Kemudian Seo Yeon bertanya apa yang akan mereka lakukan 10 tahun kemudian. “Aku ajan jadi arsitek, dan kamu akan bermain piano.” Jawab Seung Min. Seo Yeon bilang dia tidak akan bermain piano, dia tidak suka. Ayah Seo Yeon yang meminta dia belajar piano. Dia ingin menjadi penyiar dan menjadi seorang DJ radio untuk mendapatkan uang dan jadi sangat terkenal. Seung Min bertanya, siapa yang bilang jadi penyiar radio bisa menghasilkan banyak uang. Seo Yeon bilang setidaknya ada kesempatan untuk menikah dengan orang kaya. (Seung Min agak terkejut mendengar perkataan Seo Yeon itu, tapi dia diam dan mendengarkan.) Dan kemudian dia bisa membangun rumah di tempat seperti itu nantinya, dan Seung Min akan membuatkannya, gratis. Seo Yeon tersenyum.
“Gratis?” Seung Min keberatan. Seo Yeon bilang Seung Min pelit, lalu dia memberikan CD Exhibition yang waktu itu sebagai deposit.



Seo Yeon kemudian membuat sketsa rumah yang ingin dia bangun, “Rumah yang ingin aku tempati.. aku ingin tinggal di gedung dengan 2 lantai, lalu ada banyak jendela, dan juga halaman besar.” Seo Yeon menggambar mana yang akan menjadi ruang tamu, kamar tidur, dan kamar tidur dua anaknya kelak. Seung Min memperhatikan Seo Yeon sambil tersenyum, senyum manissss… senyum jatuh cinta….. hehe..


Seung Min dan Seo Yeon berada di halte bis, dan  hari sudah gelap. Seo Yeon tertidur dibahu Seung Min, sedangkan Seung Min duduk dengan tegk dan terlihat gugup. Seo Yeon merangkul lengan Seung Min dan lebih mendekatkan diri. Seung Min semakin terlihat gugup, kakinya gemetaran.



Wajah Seo Yeon begitu dekat dengan wajahnya, bibir Seo Yeon tepat menghadap ke wajah Seung Min. Akhirnya Seung Min memberanikan diri mencium bibir Seo Yeon. (aiihh,,nyurii…hehe). Seung Min terlihat masih gugup, dan was-was.

Beberapa detik kemudian Seo Yeon terbangun dan menatap, Seung Min kaget, sepertinya takut perbuatannya tadi diketahui Seo Yeon. Seung Min sudah siap-siap kena marah, tapi Seo Yeon Cuma bilang dia ingin buang air kecil. Karena tidak ada kamar kecil, akhirnya Seo Yeon buang air disamping halte.


Esoknya Seung Min menceritakan kejadian tadi malam kepada Nap Tteuk. Ciuman itu. Tapi Nap Tteuk bilang itu bukan ciuman. Ciuman itu…….. (Nap Tteuk menjelaskan panjang lebar, agak vulgar sih menurutku, hehe…). Nap Tteuk bilang yang Seung Min lakukan itu hanya ciuman pertemanan, bahkan Seung Min diam-diam mencium seseorang yang sedang tidur, itu pelanggaran.
Lalu Seung Min juga menceritakan tentang permainan berjalan di atas rel, siapa yang jatuh duluan itu pecundang dan dapat hukuman dipukul tangannya. Seung Min merasa dengan berpegangan tangan seperti itu saja hubungan mereka sudah lebih dari sekedar teman biasa. Tapi Nap Tteuk bilang itu kekanak-kanakan.



Seo Yeon menjadi penyiar di radio kampus. Seung Min mendengarkannya dengan gembira, apalagi Seo Yeon sedikit menyebut tentang Seung Min, dan memutarkan lagu Exhibition yang mereka dengarkan bersama waktu itu. Seung Min duduk di depan gedung radio jurusan musik, menunggu Seo Yeon. Begitu Seo Yeon keluar, dia menanyakan apakah Seung Min mendengarkan siarannya. Seung Min bilang, iya. “Bagaimana?” Tanya Seo Yeon. Seung Min bilang suara Seo Yeon sangat bagus. Di belakang Seo Yeon, Jae Uk memperhatikan mereka.
Jae Uk mendekati mereka dan bertanya pada mengapa Seung Min datang ke tempat itu.


Seo Yeon berada di dalam mobil Jae Uk. Sepertinya Jae Uk mengajak pulang bersama pada Seo Yeon. Eh ternyata Seung Min juga diajak, dia duduk dibelakang dan tertidur, pura-pura tidur. Jae Uk menanyakan apakah Seo Yeon dekat dengan Seung Min karena sering terlihat bersama. Seo Yeon bilang sedikit. Jae Uk juga bertanya apakah Seo Yeon dan Seung Min berpacaran, tapi Seo Yeon langsung menjawab tidak, tidak mungkin terjadi.
 
Jae Uk jg mengomentari kaos kesayangan Seung Min yang ejaannya salah, seharusnya “Guess” bukan “Geuss”, mereka tertawa bersama, dan Seung Min pelan-pelan menutup kaosnya dengan kemejanya.
Seo Yeon menanyakan biaya sewa apartemen seperti milik Jae Uk, karena dia berencana pindah rumah. Jae Uk pun mengundang Seo Yeon untuk datang ke tempatnya, Seo Yeon terlihat gembira, dia akan datang jika Jae Uk sedang tidak sibuk. Di lampu merah, Seung Min tiba-tiba pamit turun duluan, sepertinya dia panaaasss melihat Seo Yeon dan Jau Uk terlihat akrab.



Seung Min pulang ke rumahnya dengan kesal. Dia melepaskan kaosnya, dan membantingnya ke tanah. Ibu menghampirinya dan bertanya ada masalh apa. Seung Min kemudian minta pindah rumah ke apartemen di Gangnam, yang tentu saja mendapat semprot dari ibu. Cari uang sendiri dan pindahlah kesana kelak, ujar ibu. Ibu pun memungut kaos Seung Min yang tadi dibanting Seung Min. Seung Min menyuruh ibu untuk membuang kaosnya. Tentu saja ibu marah lagi, memangnya cari uang itu mudah, hari ini aja ibu hanya dapat uang 20.000 ribu won saja. Seung Min kesal karena ibu terus saja bicara tentang uang. Seung Min pergi dan menendang pintu gerbang rumah sampai bolong, eh agak lepas gitu bawahnya.
(mm, aku baru nangkep, Seo Yeon itu sepertinya agak matre, dan Seung Min bukan orang kaya…)

Seung Min curhat lagi pada Nap Tteuk. Nap Tteuk menyarankan Seung Min untuk mengaku saja. Memberitahukan Seo Yeon bahwa Seung Min menyukainya. Minta Seo Yeon untuk menemui Seung Min saat pertama kali turun salju. Tapi Seung Min tidak yakin Seo Yeon mau melakukanny. Nap Tteuk kesal, dia bilang “Aku sungguh seperti mengajar kalkulus pada orang yang tidak tahu faktorisasi.” Gak ada gunanya maksudnya. Seung Min bilang hanya ingin melihat Seo Yeon bahagia. Nap Tteuk bilang ekspresi perasaan Seung Min sangat tidak normal, seperti lelucon.





Seung Min membawakan lemari ke rumah baru Seo Yeon. Seo Yeon bilang Seung Min harusnya merasa terhormat, karena dia tamu pertama yang datang ke rumahnya. Seung Min membantu memasangkan gorden. Seo Yeon membereskan buku-bukunya ke lemari yng tadi dibawakan Seung Min. Kemudian Seo Yeon menunjukkan album foto semasa ia kecil kepada Seung Min. Seo Yeon juga mengantar Seung Min yang akan pulang ke halte bus. 



Ketika sedang berjalan, Seung Min meminta Seo Yeon untuk bertemu dengannya ketika pertaman turun salju. “Kalau begitu, ketika pertama kali turun salju, kita bertemu di rumah kosong dekat tempat tinggalmu.” Seo Yeon pun melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Seung Min sebagai tanda janji. Seo Yeon tersenyum.



Di rumah, Seung Min menari-nari gembira. Lalu dia mencoba memutar CD Exhibition yang dari Seo Yeon, pakai pemutar piringan hitam! (gak bisa atuh mas….)
Lalu Seung Min melihat sketsa rumah impian Seo Yeon yang waktu itu digambar saat di stasiun kereta, sambil tersenyum.

Flashback end
------------------------

Bersambung ke Part 3-end

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya. Tapi mohon maaf komentar akan dimoderasi ya.. jadi gak akan langsung muncul di halaman post.. Dan pasti akan saya baca semua, walau tidak saya balas. XD