Sunday, August 04, 2013

Sinopsis I HEAR YOUR VOICE Episode 17 - 1

Soo-ha berjalan di taman. Dia duduk dengan sedih. Dan mengingat perkataan Joon-guk bahwa ayah Soo-ha penyebab semua ini. Lalu dia juga mengingat saat Hye-sung bertanya padanya apakah ada hal lain yang disembunyikannya.
Soo-ha sedih dan jug takut. Dia takut Hye-sung benar-benar kecewa dan meninggalkannya.
Soo-ha melihat telpon umum dan menghampirinya.
“Bagaimana aku memberitahunya? Tidak ada alasan yang akan berguna. Bagaimana jika dia menutup telponnya saat mendengar suaraku? Jika ini akhir dari kami, akankah aku bisa hidup?”
Soo-ha menguatkan hatinya dan memencet nomor telpon Hye-sung.

Soo-ha: “Halo? Ini aku, Soo-ha. Tolong jangan tutup telponnya dan dengarkan. Aku mendengar semuanya dari Pengacara Cha. Kau mendengar tentang ayahku….”
Dan yang menjawab telponnya adalah…Min Joon-guk!

Joon-guk: “Aku menunggu telponmu, Park Soo-ha. Apa kau mencari Jang Hye-sung? Jang Hye-sung berada bersamaku sekarang.”

Soo-ha menjawab dengan tergagap, “Dimana kau? Dimana kau?! Dimana kau sekarang?!” Soo-ha berteriak.
Joon-guk: “Jangan berteriak dan dengarkan dengan baik. Hidup Jang Hye-sung tergantung pada apa yang akan kau lakukan.”
Soo-ha: “Jangan berani kau menyentuhnya atau aku akan membunuhmu.”

Joon-guk: “Itu yang aku inginkan, Park Soo-ha. Jadi, jangan lakukan sesuatu yang gegabah. Jangan menelpon siapapun dan datang kemari dalam 1 jam. Sekarang, aku berada di atap komplek Gi-jeong. Jika aku merasa ada seseorang selain kau, aku akan membunuh Jang Hye-sung. Kau mengerti?”

Soo-ha berusaha mengatur nafasnya, “Biarkan aku mendengar suaranya. Biarkan aku mendengar suaranya untuk melihat jika dia masih hidup!” Soo-ha berteriak lagi.

Joon-guk: “Bicaralah. Dia dia ingin mendengar suaramu. Aku bilang bicaralah!” (Joon-guk pada Hye-sung)
Lalu terdengar suara Hye-sung: “Soo-ha, jangan datang kemari dan telpon polisi. Jangan datang sendirian. Jangan khawatirkn aku—“
Telpon terputus. Dan Soo-ha berteriak frustasi.

26 Juli 2012—3:10 p.m

Suara Soo-ha: “26 Juli 2013. Pukul 3:10 sore. Dia diculik Min Joon-guk. 2 jam dan 30 menit kemudian, sebelas tahun cerita kami akan berakhir.”


Episode 17
Without Your Eyes, I Can’t Even See in Front Myself



Cerita mundur…

3 jam sebelumnya—12.10 p.m

Soo-ha memandangi kotak kalung itu dengan tersenyum dan memasukannya ke dalam tas. Dia turun dari tangga dan hendak keluar dari sana.
Ada seorang pria yang memperhatikannya. (ini si pencuri bermotor)

Soo-ha berjalan dengan penuh senyuman di trotoar. Tiba-tiba ada motor yang melaju di sampingnya dan menyambar tasnya. Soo-ha berusaha mengejar, dan Detektif 1 pun akan menghadang tapi di pukul tas. Si pencuri berhasil kabur. Dan Detektif juga berhasil melihat plat nomor motornya 4885.

Soo-ha membantu Detektif yang terjatuh, “Apa kau baik-baik saja?”
Detektif: “Bajing*n itu, memulainya terlalu pagi…”
Detektif hendak menghubungi seseorang. Soo-ha terlihat kesal.

Soo-ha: “Ah..aku butuh tasku..”
Detektif: “Jangan khawatir, aku tahu orang itu.”

Detektif menelpon: “Hey, ini aku. Si pria 4885 membuat masalah lagi. Kau pergi ke tempat persembunyiannya, cepat tangkap dan bawa dia.”
***

Si pencuri bermotor menghubungi seseorang, “Tuan, aku mendapatkanya. Kemana aku harus pergi?”
Si pencuri bermotor pun pergi ke suatu tempat.
***

Di dalam, Hye-sung menjentikan jarinya di depan wajah Kwan-woo.
Hye-sung: “Pengacara Cha! Liat aku! Sekarang!”
Kwan-woo: “Aku melihatmu.” (tapi matanya di lirikan ke samping, aneh, xD)
Hye-sung memukul meja, “Katakan padaku, apa ini? Siapa reporter Park Joo-hyuk? Siapa nenek yang menderita Alzheimer? Dan siapa cucunya?”

Kwan-woo: “Aku tidak bisa mengatakannya.”
Hye-sung berteriak: “Pengacara Cha!”
Kwan-woo terkejut dan akhirnya matanya melihat ke arah Hye-sung: “Aku benar-benar tidak bisa mengatakannya, maafkan aku…maafkan aku! Tapi aku tidak mau berbohong padamu, jadi berhenti bertanya!”
Hye-sung: “Ini mungkin untukku. Pasti ada alasannya karena  kau orang yang seperti itu. Pasti ada satu atau yang laun. Jika aku tahu, aku akan terluka. Atau, seseorang akan terluka. Jika itu aku, aku sangat kecewa. Aku tidak percaya kau berpikir bahwa aku sangat menyedihkan dan lemah sehingga aku tidak bisa mengatasi sesuatu seperti ini. Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri.”

Hye-sung mengambil semua artikel itu dan hendak keluar.
Kwan-woo: “Reporter Park Joo-hyuk adalah ayah Park Soo-ha. Dan nenek yang menderita Alzheimer dan cucunya adalah anak Min Joon-guk dan ibunya. Orang yang mengirim surat itu padamu adalah Min Joon-guk.”
Hye-sung terdiam.

Hye-sung duduk kembali, “Min Joon-guk mengirimnya? Mengapa?”
Kwan-woo: “Dia tidak hanya mengirimnya padamu, Pengacara Jang. Dia mengirimnya ke semua orang, termasuk aku dan Soo-ha.”
Hye-sung: “Mengapa mengirim ini? Apa yang ingin dia katakan?”
Kwan-woo: “Aku pikir penyebab kematian istri Min Joon-guk berhubungan dengan sesuatu yang dilakukan oleh ayah Soo-ha. Terakhir kali saat Min Joon-guk mencariku, dia mengatakan bahwa itulah yang memulai semuanya. Dan juga, bahwa dia akan mengakhirnya segera.”

Hye-sung: “Akhir? Apa akhirnya?”
***

12:55 p.m

Si pencuri 4885 memasuki sebuah parkiran, dia memanggil seseorang.
Pencuri: “Tuan!”
Munculah, Min Joon-guk, “Mana tasnya?”
Si pencuri melempar tasnya. Min Joon-guk menggeledah tas it Joon-guk menggeledah tas itu.
Joon-guk: “Apa kau menampakan wajahmu?”
Pencuri: “Tidak, aku menggunakan kacamata. Kau mengatakan padaku untuk  tidak menunjukan wajahku padanya.”

Joon-guk menemukan barang yang dia cari, ponsel Soo-ha. Dan mengembalikan tas Soo-ha pada si pencuri.
Pencuri: “Apa? Hanya ponsel itu yang kau perlukan?”
Joon-guk: “Ya. Kau urus sisanya.”

Si pencuri meminta bayaran.
Joon-guk: “Aku akan membayarmu jika rencanaku berhasil.”
Pencuri: “Siapa yang membayar setelah pekerjaan selesai, untuk jenis pekerjaan seperti ini?! Ah. Jika dia bukan teman satu selku, aku akan mengambil semuanya dari dia.”

Joon-guk berbalik dan hanya diam saja. Dia mematikan ponsel Soo-ha. Dia lalu melihat gantungan ponsel Soo-ha, dan membukanya. Setelah melihat foto Soo-ha kecil dan ibunya, Joon-guk menarik dan membuang gantungan itu.
***

Hye-sung berusaha menghubungi ponsel Soo-ha, tapi ponsel Soo-ha tidak aktif.
Hye-sung: “Dia tidak pernah mematikan ponselnya sebelumnya.”

Hye-sung kemudian menelpon Seong-bin.
Hye-sung: “Seong-bin?”

Seong-bin sedang merendam jari Joon-gi, “Ya, unnie.”
Hye-sung: “Apa kau berbicara dengan Soo-ha hari ini?”
Seong-bin: “Tidak, dia mungkin sedang di kelas sekarang.”
Hye-sung: “Tidak, walaupun di dalam kelas dia selalu mengaktifkan ponselnya. Tapi sekarang mati.”
Seong-bin: “Mungkin batrenya habis.”
Hye-sung: “Benarkah? Baiklah.”
***

Joon-gi: “Siapa itu?”
Seong-bin: “Pengacara Jang. Dia khawatir karena dia tidak bisa menhubungi Soo-ha dan ponselnya mati. Apakah ini sesuatu yang sangat mengkhawatirkan saat dia mungkin berada di kelas atau batrenya habis.”
Joon-gi: “Apakah hubungan mereka akhirnya sudah dimulai? Oh, Park Soo-ha. Dia memiliki banyak kemampuan.”

Seong-bin cemberut: “Apa maksudmu hubungan? Ini masih cinta sebelah pihak.”
Joon-gi: “Tidak, yang aku lihat wanita itu pasti juga menyukain Soo-ha sekarang. Tidak, tidak. Cara dia jual mahal terlalu berlebihan, jadi mungkin dia sangat menyukai Soo-ha.”
Seong-bin kesal, dia mencelupkan tangan Joon-gi ke air panas dan memukul kepalanya.

Joon-gi kesakitan: “Ah, benar-benar.”
Seong-bin: “ Tidak, tidak Pengacara Jang. Pengacara Jang seperti dinding baja. Dai tidak akan jatuh terhadapnya.”
Joon-gi: “Bagaimana kau tahu?!”
Seong-bin: “Walaupun aku tidak tahu hal lain, aku mengerti pandangannya. Tapi, mengapa kau selalu memperhatikan tanganmu? Itu tidak cocok denganmu sama sekali.”
Joon-gi gelagapan, “Hey, sejak aku menggunkn tanganku untuk pekerjaanku, tentu saja aku harus memperhatikannya.”
Seong-bin: “Benarkah? Bagaimanapun juga, aku mendapatkan uang cukup banyak, terima kasih.”

Seong-bin lalu pergi kedalam dan menyuruh Joon-gi menunggu 30 menit.
Setelah Seong-bin pergi, Joon-gi berbicara sendiri, “Go Seong-bin, penglihatanmu bukan +100 tapi -100.”
Joon-gi melihat kukunya dan tertawa sendiri.
(maksud Joon-gi adalah Seong-bin tidak bisa melihatnya yang menyukai Seong-bin, padahal Joon-gi sudah pendekatan.)
***

Si pencuri 4885 sedang menaiki tangga hendak ke rumahnya. Ada yang menyapanya.
Detektif 1: “4885. Berapa lama sejak kau dibebaskan dan sekarang kau membuat masalah lagi?”
4885 hendak lari akan turun tangga, tapi di bawah ada satu detektif lagi yang menghadang.
Detektif 2: “Aku tahu, kan? Paling tidak kau ubah nomor plat motormu. Itu terlalu jelas.”

4885 berusaha kabur dan menyerang detektif, tapi berhasil dilumpuhkan.
***
1:30 p.m

Pengacara Shin menunjukan selca Do-yeon dan Dal-joong pada Yoo-chang.
Pengacara Shin: “Jaksa Seo melakukan beberapa usaha untuk menyesuaikan suasana hati ayahnya. Tapi, pria ini bukan tipe orang yang menikmati hal semacam ini.”
Yoo-chang: “Aku tahu maksudmu. Pengacara Shin, kirimkan padaku. Aku akan menggunakannya untuk mengoloknya untuk waktu yang lama.”

Di mejanya Hye-sung masih berusaha menghubungi Soo-ha, “Nyalakan telponnya, bodoh!”
Yoo-chang dengan polosnya menunjukan ponselnya pada Hye-sung: “Tapi ini sudah menyala.”
Hye-sung: “Aku tidak berbicara padamu Yoo-chang.”

Kwan-woo masuk, “Pengacara Jang. Bukankah kau ada persidangan jam 2?”
Hye-sung melihat jam tangannya, “Ya ampun, ini hampir waktunya.”
Kwan-woo: “Mari pergi bersama. Aku juga ada sidang jam 2.”
Hye-sung: “Baik.”

Hye-sung dan Kwan-woo pun berangkat bersama.

Yoo-chang: “Pengacara Cha seharusnya bisa langsung pergi dari pusat tahanan ke pengadilan. Apakah dia kembai untuk  mengantar Pengacara Jang?”
Pengacara Shin tidak mengalihkan pandangannya dari ponselnya, “Sepertinya begitu.”
Yoo-chang: “Tapi, Pengacara Jang tidak mempunyai perasaan pada Pengacara Cha. Jadi, mengapa dia (Hye-sung) tetap menerima kebaikannya (Kwan-woo)? Saat dia melakukannya, itu bisa menjadi sopan santun untuk mengatakan padanya untuk menghentikannya!” (maksudnya seharusnya Hye-sung menolak saja, jadi Kwan-woo tidak berharap terlalu banyak)

Yoo-chang menopang dagunya, “Dalam tingkat ini, orang lain akan mengatakan bahwa dia (Hye-sung) memelihara pria itu dalam gantungan.” (maksudnya ngegantungin atau nge-PHP-in Kwan-woo)

Pengacara Shin menyentil kepala Yoo-chang: “Hey, bagaimana bisa kau meremehkan orang? Bagaimana memelihata pria dalam gantungan itu?”
Yoo-chang: “Mengapa kau seperti ini lagi?! Jika bukan memelihat pria dalam gantungan, lalu apa?”

Pengacara Shin: “Pengacara Cha masih mempunyai banyak hutang budi pada Pengacara Jjang.  Dia membebaskan penjahat yang membunuh ibunya Pengacara Jjang. Mengingat jika pria itu mencoba untuk membunuh Pengacara Jjang kali ini.”
Yoo-chang tampak berpikir membenarkan.

Hye-sung berjalan bersama Kwan-woo. Terdengar suara Pengacara Shin: “Lalu, dengan kepribadiannya, Pengacara Cha tidak akan bisa berdiri lagi. Dia tidak akan bisa berfungsi sebagai pengacara atau melakukan apapun. Itulah sebabnya dia mencoba yang terbaik untuk melindunginya. Mengetahui semua itu, Pengacara Jjang menerima kebaikannya.”
***

Soo-ha duduk dengan gelisah, sesekali melihat jam tangannya. Lalu Detektif 1 datang dan memberikan tasnya.
Detektif 1: “Soo-ha. Ini.”
Soo-ha tersenyum senang, “Kau benar-benar menemukannyaa. Terima kasih. Terima kasih banyak!”
Detektif: “Periksalah jika ada sesuatu yang hilang.”

Soo-ha membukanya, dan kalung itu masih ada disana.
Detektif: “Bagaimana dengan yang lain? Apakah dompet dan ponselmu masih ada?”
Soo-ha memeriksa kembali tasnya. Dompetnya masih ada dan uangnya utuh. Ternyata ponselnya menghilang. Detektif mengatakan akan menemukannya. Soo-ha bilang tidak usah buru-buru karena yang sangat dia perlukan sudah ditemukan (kalung).

Soo-ha: “Terima kasih.” Dan kemudian berlari.
Detektif 1: “Hey! Jangan berlari!”
***

Min Joon-guk berdiri di atap sebuah gedung. Dia menyalakan kembali ponsel Soo-ha dan melihat ada beberapa panggilan dari Hye-sung.
***

Hye-sung dan Kwan-woo sudah sampai di gedung pengadilan.
Kwan-woo: “Jam berapa persidanganmu hari ini selesai?”
Hye-sung: “Seharusnya selesai pukul 3:30.”
Kwan-woo: “Kalau begitu, aku akan datang dan menunggu, jadi kita bisa pergi bersama.”
Hye-sung: “Karena detektif menjagaku…ini tidak apa-apa.”
Kwan-woo: “Tidak buruk untuk memiliki perlindungan lebih. Hubungi aku nanti, oke?”

Kwan-woo beranjak pergi. Hye-sung memanggilnya kembali.
Hye-sung: “Pengacara Cha?”
Kwan-woo: “Ya?”
Hye-sung tidak jadi berbicara, “Tidak ada. Aku akan menelpon saat aku sudah selesai.”
Kwan-woo: “Baik, telpon aku nanti.”
Kwan-woo kembali berjalan pergi.

Hye-sung melihat jamnya, 13:50, “Mengapa aku tidak bisa menghubunginya?”
Lalu ponsel Hye-sung berdering, dari nomor ponsel Soo-ha.
Hye-sung: “Hey, bodoh. Dimana kau sekarang? Mengapa kau mematikan ponselmu? Aku khawatir!”
Yang menjawab adalah, tentu saja, Min Joon-guk.

Joon-guk: “Apa kau masih mengenali suaraku? Apa kau mencari Park Soo-ha?”
Hye-sung: “Mengapa kau…Mengapa kau memiliki ponsel Soo-ha?”
Joon-guk: “Apa yang kau pikirkan? Tentu saja karena dia bersamaku sekarang.”
Hye-sung: “Apakah Soo-ha tidak apa-apa?”

Joon-guk: “Ya, untuk sekarang. Tapi, situasinya bisa berubah tergantung apa yang akan kau lakukan.”
Hye-sung: “Apa yang kau inginkan?’
Joon-guk: “Jangan khawatir. Aku tidak tertarik pada anak ini. Orang yang aku dendam adalah kau.”
Hye-sung: “Dimana kau sekarang?”
Joon-guk: “Benar. Ini yang harus kau lakukan. Datanglah ke atap Komplek Gi-jeong sekarang. Jika kau membawa seseorang, pria ini akan mati di tanganku. Jangan katakan pada siapapun dan datang sendiri. Kau mengerti apa yang aku katakan, kan?”
Hye-sung: “Halo? Halo….”
Telpon terputus.

Hye-sung panik dan khawatir. Dia menangis.
Hye-sung: “Apa yang harus ku lakukan dengan Soo-ha? Apa yang harus ku lakukan dengan Soo-ha?”

Hye-sung berlari ke depan gedung, hendak pergi. Tapi dia bersembunyi karena melihat Detektif Kang yang masih mengawasinya di depan gedung. Hye-sung lalu berlari masuk ke dalam lagi. Hye-sung menuju belakang gedung, dan memanjat pagar. Hye-sung terus berlari dan mencegat taksi.

Hye-sung: “Pak Supir, Komplek Gi-jeong. Cepatlah.”
Pak Supir: “Komplek Gi-jeong? Bukankah area itu sekarang sedang di bongkar?”
Hye-sung: “Belum. Kumohon, cepatlah.”
Hye-sung benar-benar mengkhawatirkan Soo-ha.

Dan saat Hye-sung mengambil ponselnya yang berdering di dalam taksi, di luar Soo-ha sedang berlari dengan tersenyum hendak menemuinya.
(ahh….drama..)

Yang menelpon Hye-sung adalah Hakim Kim. Hye-sung menolaknya.
(ada yang lucu, nama Hakim Kim di ponsel Hye-sung adalah “Hakim Kipas Elektrik”, ada yang ingat waktu Hakim Kim bajunya menggelembung? Episode berapa ya lupa, aku selipin waktu itu.. :p)

2:30 p.m

Di ruang sidang. Semua orang sudah hadir, hanya Hye-sung yang tidak ada. Hakim Kim yang berusaha menghubunginya  pun tidak mendapatkan jawaban.
Hakim Kim kesal, “Mengapa dia tetap menggunakan ponsel yang tidak bisa digunaka?!”

Hakim Kim keceplosan berteriak kesal di depam sidang, rekan hakimnya mengingatkan. Kemudian Hakim Kim mengumumkn sesuatu.


Hakim Kim: “Sepertinya pengacara mempunyai masalah hari ini. Persidangan hari ini akan di tunda sampai minggu depan.”
Para hadirin beranjak pergi. Dan Do-yeon yang menjadi jaksa penuntut juga merasa heran atas ketidak hadiran Hye-sung.
***

Soo-ha masuk ke ruangan pengacara.
Yoo-chang: “Oh, kau disini?”
Soo-ha: “Apakah Pengacara Jang belum sampai?”
Pengacara Shin: “Dia ada persidangan jam 2, jadi dia pergi ke pengadilan. Dia pergi bersama Pengacara Cha.”
Soo-ha: “Oh, benarkah? Terima kasih.”
Soo-ha pemit pergi.
***

Joon-guk masih berada di atap gedung, dan dia melihat Hye-sung yang keluar dari taksi.
Joon-guk: “Hah, aku tidak berpikir dia akan tertipu semudah ini.”
***

Soo-ha masuk ke ruang persidangan. Kosong. Hanya ada satu petugas.
Soo-ha: “Apakah persidangan hari ini sudah berakhir?”
Petugas: “Tidak, belum dimulai.”
Soo-ha: “Kenapa?”

Petugas: “Pengacaranya tidak datang. Sudah jam 3 tapi dia tidak muncul bahkan setelah menunggu 30 menit. Jadi, sidang ditunda.”
Soo-ha: “Mengapa dia tidak datang?”
Petugas: “Aku tidak tahu. Hakim berkali-kali menghubunginya, tapi tidak dijawab.”
***

Hye-sung berjalan sendirian, lalu mengeluarkan alat kejut listrik dan memegangnya. Hye-sung masuk ke dalam gedung dan menaiki tangga dengan hati-hati dan berusaha tidak mengeluarkan suara. Hye-sung terlihat waspada. Tapi, dia tidak menyadari Joon-guk yang mengikutinya dari belakang.

Joon-guk menyekap Hye-sung dengan obat bius, Hye-sung berteriak.

Kini, Hye-sung tergeletak di lantai, tak sadarkan diri. Di dekatnya, Joon-guk sedang menggunting tali.

Ponsel Hye-sung berbunyi, Joon-guk melihatnya, dari Kwan-woo. Joon-guk menerimanya dan mendengar suara Kwan-woo “Halo. Pengacara Jang…..”, lalu menutupnya lagi.
***

Kwan-woo: “Dia menutup telponnya. Aku orang yang mengantarnya ke sini.”
Kwan-woo berpikir: “Mungkinkah karena artikel itu? tidak, tidak mungkin seperti itu.”
Soo-ha memegang tangan Kwan-woo, “Mungkinkah…kau memberi tahu Pengacara Jang tentang ayahku?”
Kwan-woo: “Oh, ya. Pengacara Jang menggeledah mejaku dan menemukan artikel yang dikirim Min Joon-guk.”
Soo-ha lemas, matanya berkaca-kaca.

Kwan-woo: “Maafkan aku, tidak ada lagi yang bisa ku lakukan.”
Soo-ha: “Apakah dia mengetahui semuanya?’
Kwan-woo: “Ya. Hampir.”
Soo-ha benar-benar sedih: “Jadi…. Jadi karena itu dia menghilang.”
Kwan-woo: “Tidak. Ini bukan karena itu, ini pasti……”
Soo-ha memotong kata-kata Kwan-woo: “Apa yang kau tahu?! mengapa kau memberitahunya?”
Soo-ha pun pergi meninggalkan Kwan-woo.
Kwan-woo memanggil dan mengejarnya.
***

3:05 p.m

Hye-sung tersadar dalam posisi duduk dan terikat pada kursi. Hye-sung melihat ke sekitar.
Joon-guk menghampirinya dengan membawa kunci inggris, “Kau sudah bangun? Kau sangat berani. Apakah kau pikir kau bisa melawanku hanya dengan ini?” Joon-guk mengacungkan alat kejut yang di bawa Hye-sung.
(aneh deh, tadi tuh Joon-guk ngambilnya kunci inggris pakai tangan kanan, kenapa sekarang jadi alat itu? He, mungkin tadi salah ya tapi tidak diganti oleh sutradara..)

Joon-guk melemparkan alat itu.
Hye-sung mencari-cari sesuatu: “Bagaimana dengan Soo-ha? Dimana Soo-ha?”
Joon-guk: “Park Soo-ha tidak ada disini. Aku hanya punya ini (ponsel). Bahkan seseorang yang sangat rasional, dalam situasi seperti ini, pada umumnya menjadi tidak rasional. Menjadi orang bodoh. Aku pernah dalam posisi itu, dan melakukannya, jadi aku memahaminya dengan baik.”

Hye-sung: “Apa yang sedang kau coba lakukan sekarang? Apa yang kau rencanakan?”
Joon-guk: “Awalnya, aku akan membunuhmu dan anak itu. Tapi di pemancingan waktu itu…kata-kata anak itu, membuatku…sangat gila.”

Flashback di pemancingan.
Soo-ha mencekik Joon-guk dan tangan kanannya memegan pisau.
Joon-guk: “Bunuh aku! Apa bedanya antara kau dan aku 11 tahun yang lalu?”

Soo-ha mengacungkan pisaunya, sesaat, lalu menjatuhkannya dan melepaskan cekikan tangannya dari leher Joon-guk.
Soo-ha: “Aku berbeda. Tidak seperti kau, aku tidak akan hidup seperti seekor binatang. Tidak akan pernah.”
Flashback end.

Joon-guk: “Dia bilang dia tidak akan hidup sebagai seekor binatang sepertiku. ‘tidak akan hidup sebagai binatang sepertiku’….aku ragu jika anak itu akan bisa mengatakan hal yang sama, jika aku memberinya situasi yang sama denganku? Dia bilang dia tidak akan hidup sebagai seekor binatang sepertiku.”

Hye-sung: “Sekarang apa yang sedang kau pikirkan untuk kau lakukan?” tanya Hye-sung khawatir.
Joon-guk: “Daripada membunuh kalian berdua, aku berpikir untuk melukis gambar yang berbeda.”
Hye-sung: “Kau…tidak mungkin….”

Joon-guk: “Aku juga penasaran, jika dia benar-benar bisa melakukannya. Dalam situasi kehilangan semua orang yang dia cintai, sama sepertiku, akankah anak itu bisa menahannya tanpa menjadi seekor binatang? Kau juga penasaran, kan? Aku akan menunjukannya padamu.”
Joon-guk tertawa. Dan Hye-sung, tentu saja marah, panik.

Ponsel Hye-sung berdering. Dari nomor tidak dikenal.
Joon-guk menerimanya, dari sana terdengarlah suara Soo-ha.
“Halo? Ini aku, Soo-ha. Tolong jangan tutup telponnya dan dengarkan. Aku mendengar semuanya dari Pengacara Cha. Kau mendengar tentang ayahku---”

Joon-guk menyela, “Aku menunggu telponmu, Park Soo-ha.”

Joon-guk lalu mengaktifkan speaker, agar Hye-sung mendengarnya.

Joon-guk: “Apa kau mencari Jang Hye-sung? Jang Hye-sung berada bersamaku sekarang.”

Soo-ha menjawab dengan tergagap, “Dimana kau? Dimana kau?! Dimana kau sekarang?!” Soo-ha berteriak.
Joon-guk: “Jangan berteriak dan dengarkan dengan baik. Hidup Jang Hye-sung tergantung pada apa yang akan kau lakukan.”
Soo-ha: “Jangan berani kau menyentuhnya atau aku akan membunuhmu.”

Joon-guk menyeringai pada Hye-sung.
Hye-sung menangis.

Joon-guk: “Itu yang aku inginkan, Park Soo-ha. Jadi, jangan lakukan sesuatu yang gegabah. Jangan menelpon siapapun dan datang kemari dalam 1 jam. Sekarang, aku berada di atap komplek Gi-jeong. Jika aku merasa ada seseorang selain kau, aku akan membunuh Jang Hye-sung. Kau mengerti?”

Soo-ha menangis, “Biarkan aku mendengar suaranya. Biarkan aku mendengar suaranya untuk melihat jika dia masih hidup!” Soo-ha berteriak lagi.

Joon-guk mendekatkan ponselnya pada Hye-sung
Joon-guk: “Bicaralah. Dia dia ingin mendengar suaramu.”
Hye-sung diam saja, dan meneteskan air mata.
Joon-guk berteriak tak sabar, “Aku bilang bicaralah!”

Hye-sung: “Soo-ha, jangan datang kemari dan telpon polisi. Jangan datang sendirian. Jangan khawatirkn aku—“
Telpon terputus. Joon-guk menonaktifkan ponsel Hye-sung.
***

Soo-ha panik: “Tidak mungkin…”
Di berteriak frustasi di box telpon membuat orang-orang yang berjalan melihatnya dengan aneh.

Soo-ha kemudian berjalan dengan gontai. Lalu dia berhenti.
Soo-ha menangis, “Apa yang harus ku lakukan? Apa…apa yang harus ku lakukan?”
Soo-ha menghapus air matanya, dan kemudian berlari.

Di belakangnya detektif 1 mengejarnya lagi, “Anak itu, aku hampir mendapatkannya.” Dan kemudian mengejar Soo-ha lagi.
(berarti pas Soo-ha tadi telpon, ini detektif tidak tahu, karena dia baru menemukan Soo-ha)
***

Joon-gi sedang bekerja di bengkel. Saat dia memutar sesuatu, dia melihat kuku jari kelingkingnya yang di hias. Dia tersenyum melihatnya dan kemudian menciumnya.
(Lucu…jatuh cinta, oh…)

Lalu dia kaget sampai hampir jatuh ke belakang. Joon-gi kaget melihat Soo-ha di depannya.
Joon-gi: “Apa kau melihatnya? Jangan salah paham! Jariku berdarah, jadi aku mengisapnya.”

Soo-ha yang sedari tadi menunduk, mengangkat wajahnya, “Joon-gi, pinjamkan aku ponselmu.”
Joon-gi merogoh sakunya, “Ponsel? Mengapa, apa kau kehilangan ponselmu?”
Soo-ha langsung mengambil ponsel Joon-gi dan berlari pergi.

Joon-gi mengejarnya, “Hey, Park Soo-ha! Apa yang sedang anak itu lakukan sekarang?! Apakah dia baru saja mencuri ponselku?!”

Detektif baru sampai dan menanyakan Soo-ha pada Joon-gi.

Detektif: “Mana Park Soo-ha?”
Joon-gi: “Ahjussi, kau siapa?”
Detektif menunjukan lencananya, “Aku polisi. Kau bertemu Park Soo-ha, kan? Dimana anak itu?”
Joon-gi: “Aku tidak tahu.”

Joon-gi: “Tangkap dia untukku, kumohon. Dia baru saja mencuri ponselku.”
Detektif: “Apa?”
Joon-gi: “Tapi, apa yang terjadi dengannya? Sepertinya terjadi sesuatu. Saat aku melihat matanya, itu terlihat seperti dia habis menangis.”
Detektif kaget: “Katakan padaku berapa nomor ponselmu.”
Joon-gi: “Oke. 010—“
***

Joon-guk mondar mandir di depan Hye-sung, lalu dia minum.
Joon-guk: “Ini pertama kalinya kita bicara seperti ini, kan? Ini sudah 11 tahun dan komunikasi kit seluruhnya sulit saat itu. benarkan?”
Hye-sung: “Jangan berpikir gegabah dan masuk ke dalamnya. Ini adalah akhir untukmu.”
Joon-guk: “Aku tahu, ini adalah akhir bagiku. Aku membawamu kesini untuk melihat akhirku.”

Hye-sung: “Lalu, apa itu?”
Joon-guk: “Aku sudah mengatakannya padamu sebelumnya. Sebelum aku pergi, aku akan membuat anak itu menjadi seekor binatang. Sama sepertiku 11 tahun yang lalu…siapapun, di dunia ini, yang berada dalam situasi sepertiku, kan berubah menjadi binatang. Aku akan menunjukannya padamu.

Hye-sung: “Soo-ha tidak akan pernah menjadi seseorang sepertimu.”
Joon-guk: “Jangan terlalu yakin. Aku juga tidak menyangka hidupku akan berakhir seperti ini.”
Hye-sung: “Aku tahu mengapa kau menjadi seperti ini, dan apa masalahmu sebenarnya. Karena ayahnya Soo-ha, kau kehilangan istrimu. Dan karena kesaksianku, kau pikir ibu dan anakmu meninggal, kan?”

(oke, aku baru tahu sekarang, di episode 16 saat Kwan-woo membaca artikel, aku menjelaskan bahwa mungkin Joon-guk di penjara karena membuat keributan di rumah sakit. Dan ternyata bukan itu, tapi dia di penjara karena membunuh ayahnya Soo-ha. Dan yang meninggal bukan hanya ibunya, tapi anaknya juga. Jadi, anaknya tidak hilang seperti dugaan.)

Joon-guk tertawa, “Ah..kau sangat pintar, Jang Hye-sung. Kau akhirnya mengetahui semuanya? Itu benar. Orang yang memulai semua ini bukan aku, tapi ayahnya Soo-ha.”
Hye-sung: “Tidak. Orang yang memulai semua ini adalah kau. Jangan bertingkah seperti korban. Kau adalah seorang pembunuh. Bahkan sejak kau membunuh ayah Soo-ha dan ibuku, semua alasanmu menghilang. Saat itulah semua di mulai.”

Joon-guk terlihat sedikit bersedih, “Apa yang harus aku lakukan saat tidak ada seorang pun yang akan mendengarkanku? Dokter dan polisi, tidak ada seorangpun yang mendengarkanku. Haruskah aku tetap bertahan? Hidup seperti itu? Apa kau pikir itu mungkin?”

Hye-sung teringat perkataan ibunya sebelum meninggal:
“Kau tahu? Mata untuk matan dan gigi untuk gigi. Jika kau hidup seperti itu, semua orang di dunia ini akan menjadi cacat. Seseorang yang memperlakukanmu dengan buruk, mereka melakukannya karena mereka cemburu. Jangan membenci orang seperti itu. Pahami mereka dan kasihanilah mereka. Kau mengerti?”

Joon-guk terdiam, mengenang masa lalunya yang menyedihkan.
Hye-sung: “Sekarang, aku tahu mengapa ibuku mengatakan kata-kata itu, saat aku melihatmu. Aku tahu bagaimana kau menjalani hidupmu 11 tahun ke belakang. Balas dendam, kebencian… Sejak kau menjalani hidupmu seperti itu selama 11 tahun, berapa banyak neraka yang telah kau lewati.”

Joon-guk: “Apa?”
Hye-sung: “Jangan berpikir bahwa Soo-ha akan menjadi sepertimu. Soo-ha berbeda.”
Joon-guk tersinggung, dia mengambil kunci inggrisnya, “Aku sudah mengatakannya, jangan terlalu yakin.”
Hye-sung tertawa meremehkan Joon-guk, “Aku sangat yakin. Soo-ha yang aku tahu tidak menyedihkan sepertimu.”

Joon-guk emosi, dia berdiri dan mengangkat kunci inggrisnya hendak memukul Hye-sung. Tapi, Hye-sung tidak memalingkan muka atau bahkan sekedar menutup mata ketakutan. Dia dengan berani menatap tajam Min Joon-guk.
*** 



Note:
Awal episode ini banyak sekali flashback, melengkapi episode 16. Beberapa adegan yang terpotong di episode 16.

11 comments:

  1. mkasih mba mumu.... fightng... :)

    ReplyDelete
  2. kok iya sih mba?
    episode 17 part 2 nya ga ad? penasaraaaan...
    1 episode lgi...hwaiting mba!!

    ReplyDelete
  3. @all, maaf td ada kesalahan posting. sekarang udh ada lagi ya..
    -mumuzizi-

    ReplyDelete
  4. dtnggu kelanjutannya..

    Secepatnya ya...

    ReplyDelete
  5. Gomawo eonnie ^^

    ReplyDelete
  6. eonni semangat ya bwt posting part selanjutnya,,,,,,,

    aku slalu menunggu postinganmu,,,, '3

    ReplyDelete
  7. Postingan selanjutx kpn eonni??

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Tapi mohon maaf komentar akan dimoderasi ya.. jadi gak akan langsung muncul di halaman post.. Dan pasti akan saya baca semua, walau tidak saya balas. XD