Monday, January 16, 2017

Hwarang: The Poet Warrior Youth | Episode 8 - 1

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[63]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[37]

A Ro meridukan wangi tubuh dan belaian ibunya, serta suara angin dan burung yang menjadi nyanyian pengantar tidur. Sun Woo bertanya kenapa ibu mereka tidak bernyanyi, apakah suaranya buruk? Sun Woo yang sebenarnya adalah Moo Myung tidak tahu jika Ibu Sun Woo tidak bisa bicara. A Ro terkejut mendengarnya dan memberitahu bahwa ibu mereka tidak bisa bicra. Sun Woo pun terkejut, dia telah salah bicara. Sun Woo kehabisa kata-kata, bingung untuk menjelaskan.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[65]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[24]

“Oh.. Oraboni lupa. Memang sih, itu sudah lama. Aku juga tidak terlalu mengingatnya. Ayah yang mengatakannya, jadi aku rasa itu benar.”

Dengan canggung A Ro lalu menyuruh Sun Woo untuk segera pergi sebelum tertangkap. Sun Woo kan sudah satu kali gagal. A Ro kemudian berjalan pergi meninggalkan Sun Woo yang masih tak bisa berkata. A Ro tampak bingung dengan yang terjadi. Sun Woo tak kuasa mencegah, dia hanya memandangi A Ro yang semakin menjauh.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[30]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[108]

Maek Jong ditemani Pa Oh sudah sampai di depan rumah Hwarang di jam yang telah ditentukan. Pa Oh kesal karena yang lain belum datang. Pa Oh meminta Maek Jong untuk tidak berteman dengan mereka. Pa Oh tidak bisa tidur karena sering memikirkan Maek Jong berbagi kamar dengan para binatang liar itu dan diperlakukan setara derajat dengan mereka.

“Derajatku apa? Kau tahu. Aku belum menjadi apapun.”

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[101]

“Apa maksud anda? Bagaimana bisa anda mengatakan itu? Anda adalah Tuan-nya Silla. Saya tahu dan para bintang juga tahu. Anda pun tahu dengan baik, Yang Mulia.” Pa Oh berkaca-kaca.

Untuk menghibur hati Pa Oh, Maek Jong akhirnya membenarkan kata-katanya. Bahwa mereka sering memperlakukannya dengan salah. Dia harus menuliskan nama mereka dan menghukum mereka. Maek Jong bahkan menyuruh Pa Oh merebus mereka sampai mati sebagai hukuman. Maek Jong kemudian tertawa.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[122]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[89]

Ji Dwi melihat Sun Woo berjalan ke arah mereka. Maek Jong menyuruh Pa Oh untuk sembunyi. Ji Dwi memarahi Sun Woo yang datang terlambat. Ji Dwi kesal karena dia sudah lama menunggu dan dia bukanlah seseorang yang menunggu orang lain. Sun Woo yang merasa bersalah pada A Ro tak menghiraukan Ji Dwi. Ji Dwi pun heran, seharusnya Sun Woo tampak lebih baik karena sudah memperingati kematian ibunya.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[55]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[34]

Sun Woo bertanya, “Mungkinkah melupakan kenangan masa kecil ibumu sendiri? Contohnya..apakah ibumu bisa bicara atau tidak.”

“Aku cemburu. Aku tidak bisa melupakan kenangan ibuku, sebesar apapun aku menginginkannya. Orang bodoh mana yang melupakan kenangan penting itu?”

“Aku.” Sun Woo tertawa miris.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[3]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[123]

Yeo Wool kemudian datang bersama Ban Ryu yang menggendong Soo Ho. Yeo Wool melihat keheranan Sun Woo dan Ji Dwi. Yeo Wool mengerti dengan keanehan yang mereka lihat, tapi mereka bicarakan di dalam saja. Sementara itu Ban Ryu kesal pada Yeo Wool, kenapa harus dia yang menggendong Soo Ho.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[36]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[96]

Mereka pun memanjat dinding dengan susah payah karena harus memindahkan Soo Ho juga. Soo Ho tidak juga bangun, bahkan setelah pipinya ditepuk-tepuk. Mereka terpaksa menggotong Soo Ho bersama-sama. Dan mereka.....ketahuan pengawas.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[116]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[41]

Besoknya mereka dihukum mengangkat tandu Wi Hwa sebanyak 100 kali putaran. Ban Ryu kesal pada Yeo Wool, karena minuman itu ternyata tidak sekuat yang disebutkan. Yeo Wool membela diri bahwa minuman itu memang kuat. Sementara itu Min Ho meminta siapapun memberitahunya apa yang terjadi semalam. Tapi tak ada yang menjawab.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[62]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[82]

Sementara itu para Hwarang yang lain mengamati mereka yang baru keliling 16 putaran. Mereka mungkin akan mati setelah 100 putaran. Han Sung juga bertanya-tanya kenapa Ban Ryu melakukan itu pada adiknya Soo Ho. Melakukan apa? Menyentuh dadanya. Hwarang yang mendengarnya tak percaya, Ban Ryu pasti sudah gila.

Teman sekamar tadi kemudian mandi bersama setelah kena muntahan Wi Hwa. Ji Dwi kesal, gara-gara minuman itu dia harus mengalami hal seperti itu. Ji Dwi bilang mereka semua pantas dihukum mati. Sementara itu Soo Ho masih merasa aneh karena tidak bisa mengingat kejadian semalam, padahal dia yakin itu sesuatu yang buruk.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[69]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[14]

Selesai mandi dan menuju loker, Soo Ho menjatuhkan gelang itu. Ji Dwi memungutnya. Ji Dwi bertanya apa arti dari gelang itu untuk Sun Woo karena bentuknya sangat unik. Sun Woo bilang Ji Dwo tidak perlu tahu karena gelang itu sebenarnya bukan miliknya. Kalau begitu, Ji Dwi meminta Sun Woo memberikan gelang itu padanya, dia suka mengumpulkan benda unik seperti itu. Ji Dwo bahkan meminta Sun Woo menjualnya dan dia akan memberikan sebanyak yang Sun Woo mau. (Ji Dwi sedang berusaha mengambil gelangnya kembali)

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[5]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[60]

Sun Woo menolak, itu bukan sesuatu yang bisa dia jual, tapi sesuatu yang harus dia bayar. Ji Dwi pun mengembalikan gelang itu, dan Sun Woo memakainya. Sun Woo lalu bertanya, apakah Ji Dwi sungguh-sungguh menyukai A Ro? Ji Dwo balik bertanya, memangnya kenapa jika dia sungguh-sungguh?

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[42]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[22]

Soo Yeon berjalan di pasar. Semua mata memandang ke arahnya karena kejadian semalam. Soo Ho dan Ban Ryu adalah musuh, dan dipastikan akan terjadi pertarungan karena Soo Yeon. Seorang pria berkata bahwa Ban Ryu bersalah, jika dia jadi Soo Ho dia juga akan membunuh Ban Ryu. So Yeon menutupi wajahnya kemudian berlari pergi.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[77]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[130]

Ban Ryu menawarkan handuknya pada Soo Ho. Teman-teman Ban Ryu lewat dan mereka tampak gugup sambil berlalu pergi. Soo Ho bingung kenapa dengan mereka, tapi Ban Ryu bilang dia tidak melihat mereka gugup. Soo Ho pun penasaran apakah dia jadi lebih sensitif setelah kehilangan ingatannya.

“Soo Ho, ingat ini. Semuanya adalah salah paham.” Ujar Ban Ryu kemudian.

Soo Ho tak mengerti maksud Ban Ryu.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[102]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[7]

Soo Yeon datang ke rumah Hwarang dan memanggil Joo Ki yang ada di depan gerbang. Joo Ki terkejut melihat So Yeon, kenapa Soo Yeon ada disana? Soo Yeon menitipkan surat untuk Ban Ryu. Surat itu akan menyelamatkan sebuah nyawa, jadi Joo Ki harus memberikannya pada Ban Ryu.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[78]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[105]

Soo Ho memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dia mulai ingat kejadian semalam, saat Soo Yeon menampar seorang pria berpakaian Hwarang. Tapi Soo Ho tidak ingat wajah pria itu.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[38]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[35]

Joo Ki memberikan surat Soo Yeon pada Ban Ryu. Ban Ryu kemudian membacanya. Dalam surat itu Soo Yeon mengatakan bahwa kakaknya memang kelihatan pintar, tapi dia sebenarnya bodoh dan angkuh. Dia selalu mengutamakan kekerasan. Oleh karena itu Soo Yeon tidak bisa meyakinkan Soo Ho hanya melalui surat. Soo Yeon meminta Ban Ryu untuk bertahan. Soo Yeon akan menjelaskan semuanya pada Soo Ho saat dia pulang nanti, bahwa yang menyentuh adalah dia bukan Ban Ryu. Soo Yeon akan menjelaskan itu.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[43]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[16]

A Ro termenung di tepi sungai dengan cucian mengambang di sungai. Sun Woo kemudian datang dan menegur A Ro. A Ro bilang dia punya banyak cucian. Sun Woo mengambil cucian A Ro dan mengerjakannya. A Ro lalu memandangi Sun Woo. Sun Woo pun bertanya kenapa A Ro memandangnya seperti itu.

Setelah terdiam beberapa saat, A Ro pun menjawab, “Aku tidak boleh lihat? Apa seorang adik tidak boleh menatap kakaknya?”

Ternyata A Ro masih kejadian semalam. A Ro bilang anak kecil bisa melupakan namanya saat dia hilang, jadi bisa di mengerti jika Sun Woo lupa tentang ibu mereka yang tidak bisa bicara. A Ro ingin mengatakan itu. A Ro sepertinya ingin Sun Woo untuk tidak merasa bersalah karena hal itu.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[113]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[104]

Sun Woo lalu memercikan air ke wajah A Ro. Dan A Ro membalas. Sun Woo membelai kepala A Ro. Sun Woo menyuruh A Ro pulang dan berhati-hati pada orang asing, juga berjalan di jalanan yang lebar. Sun Woo lalu berjalan pergi meninggalkan A Ro.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[107]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[75]

Sun Woo termenung di rumah Hwarang dan A Ro kembali termenung di sungai. Banyak yang menganggu pikiran mereka.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[2]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[128]

A Ro berjalan pulang. Dia terkejut dengan kemunculan Soo Yeon yang menutupi wajahnya dengan rambut. Soo Yeon memastikan pada A Ro apakah terjadi pembunuhan di rumah Hwarang. A Ro tak mengerti. Soo Yeon pun memperjelas pertanyaannya, apakah kakaknya belum membunuh Ban Ryu? A Ro mengangguk.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[118]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_000[88]

A Ro yang sedang galau kemudian mengajak Soo Yeon minum bersama. Soo Yeon dan A Ro sudah berteman kurang lebih selama 12 tahun. Berkat Soo Ho, Soo Yeon menjadi seorang penyediri, dan A Ro satu-satunya anak yang bermain dengannya. Sedangkan bagi A Ro, disaat anak-anak lain mengejeknya sebagai anak setengah peranakan, Soo Yeon satu-satunya anak yang bermain dengannya.

“Aku..menyukai kakakku.” Ujar A Ro kemudian.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[118]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[45]

“Aku juga menyukai kakakmu. Aku cemburu. Kau tidak akan mengatakan itu jika dia mencekikmu.” Soo Yeon kemudian melihat A Ro yang tampak sedih, “Ada apa?”

“Aku benar-benar menginginkan dia menjadi kakakku, tapi aku juga tidak mau itu terjadi.”

Soo Yeon tak mengerti maksud A Ro. Tapi sepertinya A Ro sudah merasa punya perasaan lain pada Sun Woo, perasaaannya pada Sun Woo sebagai pria, bukan sebagai kakak.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[41]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[49]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[46]

Ratu Ji So teringat perkataan Maek Jong semalam.

“Semakin lama aku menunggu, kau semakin kuat. Aku akan menjadi kuat dalam Hwarang, Ibu.”

Ratu Ji Soo tiba-tiba merasa pusing. Dayang menawarkan diri untuk memanggil dokter, tapi ratu minta dipanggilkan Tuan Ahn Ji. Maka kepala pengawal datang ke rumah Tuan Ahn Ji dan memintanya datang ke istana, tapi Tuan Ahn Ji menolak karena sedang menunggu pasien. Tapi kepala pengawal bilang dia datang bukan untuk minta tolong, tapi Tuan Ahn Ji harus datang.

Tuan Ahn Ji memeriksa denyut nadi di tangan ratu. Tuan Ahn Ji teringat dengan pertemuannya dengan Park Young Shil.

[Flashback]

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[54]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[31]

“Aku berencana untuk membunuh Ratu Ji So...dengan pelan-pelan. Kenapa kau terkejut? Ini bukan berita baru.” Ujar Young Shil melihat Tuan Ahn Ji yang terkejut. “Orang-orang di dalam Istana Wolseong berada di pihakku. Tidak perlu terburu-buru. Aku akan melakukannya tanpa terlihat jelas. Dengan cara itu, tidak akan ada masalah saat aku membawa masuk raja baru.”

Tuan Ahn Ji mengepalkan tangan dengan marah, “Kenapa kau memberitahu hal ini padaku?”

“Aku sudah bilang, aku percaya kita menatap gambar (tujuan) yang sama.”

[Flashback end]

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[80]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[96]

Tampaknya Tuan Ahn Ji menyadari maksud dari Young Shil membunuh ratu pelan-pelan. Dari denyut nadi ratu, Tuan Ahn merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya. Kesehatan Ratu perlahan makin memburuk. Tuan Ahn Ji yakin ratu kena racun. Tuan Ahn Ji kemudian bertanya apakah ratu merasa sakit di dada? Kadang-kadang.

“Apakah aku menderita penyakit karena mengacaukan hidupmu? Aku membuatmu berpisah dengan istri dan putramu. Akan tetapi, kau menemukan putramu lagi.”

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[1]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[89]

Tuan Ahn Ji tak menanggapi perkataan ratu dan memberitahu bahwa energi ratu hanya sedang lemah dan harus menenangkan diri. Ratu memastikan bahwa dia benar-benar tidak menderita penyakit serius. Jika ratu tak percaya padanya, Tuan Ahn Ji meminta ratu untuk memanggil tabib istana.

“Aku tidak bisa percaya pada siapapun di Istana Wolseong...selain kau.” Ujar ratu dengan tulus. “aku terus memikirkan masa lalu saat aku tidak ragu untuk menikah denganmu. Kita berlari di padang rumput seperti anak kecil. Lagi biru dan cerah. Aku hanya melihat pantulan wajahku di matamu. Apa kau masih sangat membenciku?” Ratu berkaca-kaca. “Jika kau masih menginginkanmu, akankah kau datang padaku?”

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[85]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[112]

Tuan Ahn Ji keluar dari kamar ratu. Dia melihat dayang sedang menyiapkan teh. Tuan Ahn Ji memastikan jika itu teh untuk ratu. Dayang membenarkan. Tuan Ahn Ji mencium bau teh itu dan mencicipinya. Dayang bertanya, apakah ada yang salah dengan tehnya? Tidak ada yang salah, ujar Tuan Ahn Ji.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[34]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[77]

Park Young Shil dan Tuan Ho Gong minum teh di Seorabeol. Tuan Ho Gong menanyakan alasan Joo Ki, seorang pebisnis sukses, bekerja di rumah Hwarang. Jo Ki beralasan kalau dia hanya berinvestasi karena pebisnis punya masa depan yang suram. Itu adalah kesempatannya membangung relasi dengan calon pejabat.

Tuan Ho Gong meminta Joo Ki untuk mengatakan semua yang dia tahu tentang Sun Woo pada Park Young Shil. Joo Ki menanyakan alasannya, tapi Joo Ki malah dimarahi Ho Gong. Sedangkan Young Shil bilang kalau dia hanya penasaran saja dengan Sun Woo. Joo Ki lalu memberitahu bahwa Sun Woo itu bodoh dan angkuh, tapi kadang-kadang tampak bijaksana. Dia sangat berbeda dengan tuan muda dari ibu kota.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[86]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[119]

Young Shil bingung dengan sebutan Dog-bird untuk Sun Woo. Joo Ki menjelaskan, Sun Woo itu seperti anjing tapi juga seperti burung, itu adalah nama panggilannya. Sun Woo itu cukup unik, atau bisa disebut juga cukup aneh.

Young Shil menangkap penjelasan Joo Ki bahwa tidak ada satupun kemiripan Sun Woo dengan ayahnya.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[79]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[67]

Ji Dwi menghadang A Ro dan memberikan sesuatu yang dia temukan di jalan. Itu adalah tabung tempat jarum. A Ro menanyakan alasan Ji Dwi memberikan barang itu padanya. Tapi Ji Dwi menyuruh A Ro memikirkannya sendiri. Ji Dwo kemudian pergi. A Ro bingung, apakah Ji Dwi ingin dia memberikan pengobatan dengan gratis? Dan di dalam tabung itu ternyata ada jarum yang terbuat dari emas.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[16]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[110]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[72]

Di depan ruangan A Ro, Joo Ki dan koki berdiri menunggu A Ro. Joo Ki bertanya kapan A Ro melakukannya? Tapi A Ro bingung, melakukan apa? Joo Ki menarik A Ro masuk ke ruangan. Ruangan A Ro sudah dihiasai barang-barang mahal. Joo Ki terkesan. Sedangkan A Ro bingung dari mana barang-barang itu berasal. Joo Ki tahu pasti bahwa itu dari seseorang yang ingin memenangkan hati A Ro.

A Ro tidak suka dengan barang-barang itu. Siapa yang akan mendekorasi klinik dengan barang-barang seperti itu? Joo Ki bilang A Ro harus menghargai kemurahan hati orang yang memberikannya. Tahukah A Ro berapa nilai semua itu? Lebih dari perak, tapi banyak emas.

“Ap?! Dia seharusnya memberikan semua itu padaku! Orang bodoh apa yang akan melakukan kegilaan ini?!” teriak A Ro dengan kesal.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[13]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[5]

Di luar Ji Dwi mendengar teriakan A Ro dan menyalahkan Pa Oh. Rupanya itu adalah ide Pa Oh untuk membuat A Ro senang. Pa Oh juga bingung, karena seharusnya hal itu sempurna untuk menyenangkan wanita. Mungkin A Ro punya selera yang buruk. Ji Dwi semakin kesal. Dia menyuruh Pa Oh untuk pergi.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[62]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[52]

A Ro muncul, dan ternyata mendengar pertengkaran Ji Dwi dengan Pa Oh. A Ro menghampiri Ji Dwi dengan kesal, apa Ji Dwi yang melakukan hal tak berguna itu? Ji Dwi nyengir, barang-barang itu terlalu menghabiskan banyak emas untuk dikatakan tak berguna.

“Jika kau punya emas untuk dihamburkan, kau seharusnya menyumbangkannya. Banyak anak kecil kelaparan yang bisa kau beri makan. Apa yang kau lakukan?”

“Apa yang aku lakukan? Karena aku ingin melakukannya untukmu. Barang-barang itu mungkin tak berguna, tapi mereka juga cantik dan bagus. Aku ingin memberikan mereka padamu.”

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[102]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[55]

“Kenapa?”

“Karena aku bisa. Tidak, karena aku ingin.”

“Ya, tapi kenapa?”

“Karena aku menyukaimu. Aku tahu kau tidak pintar, tapi aku tidak tahu kalau kau bodoh. Gunakan, atau buang saja.”

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[83]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[91]

Ji Dwi kemudian pergi. A Ro masih kesal, dan menganggap ucapan Ji Dwi hanya omong kosong. A Ro berteriak, apakah ibunya Ji Dwi tahu dia bersikap seperti ini? Sesaat Ji Dwi berhenti berjalan, tapi kemudian dia menggelengkan kepala dan kembali berjalan pergi.

*** 

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[2]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[113]

Para Hwarang berlatih pedang dengan Pengawas. Tidak ada yang bisa mengalahkan kehebatan Pengawas dalam bermain pedang. Pengawas begitu kuat. Soo Ho, yang paing jago bermain pedang di ibu kota, hanya mampu menahan 8 kali serangan. Kemudian Ji Dwi maju. Dan penampilan Ji Dwi tidak mengecewakan. Dia berhasil mengalahkan Pengawas. Pengawas pun tampak terkejut dengan kemapuan Ji Dwi.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[53]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[50]

Sekarang giliran Sun Woo melawan Ji Dwi. Entah siapa yang menang. Tapi Sun Woo melawan Ji Dwi dengan sekuat tenaga setelah mempelajari gerakan-gerakan pedang dari para Hwarang sebelumnya termasuk Ji Dwi.

***

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[48]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[8]

Para pejabat berdebat di hadapan ratu. Wi Hwa yang juga ada disana berkata bahwa Silla disebut punya banyak raja karena banyak para pejabat yang memiliki banyak tanah dan pasukan. Jadi orang-orang tidak bisa mengatakan siapa raja mereka. Wi Hwa menyebut para pejabat tidak punya hati. Daripada menyumbang pada keluarga kerajaan, mereka malah bertengkar.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[11]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[95]

Seorang pejabat menegur Wi Hwa yang berani berdiri di forum itu, atas dasar apa? Wi Hwa menjawab atas dasar mantan pejabat dan atas dasar kepala pengajar Hwarang yang akan menciptakan pejabat masa depan.

Seorang pejabat lagi mengusir Wi Hwa pergi karena mereka sedang membahas festival yang sangat penting. Tapi Wi Hwa bilang karena itulah dia ada disana. Wi Hwa membuka gulungan kertas yang dia bawa. Wi Hwa ingin Hwarang tampil dalam festival itu.

Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[44]Hwarang.E08.170110.540p-NEXT.mkv_001[29]

Wi Hwa kemudian bicara berdua dengan ratu. Ratu menanyakan maksud Wi Hwa tentang Hwarang yang akan tampil di festival. Sesuai dengan keinginan ratu untuk mengumumkan Hwarang sebagai milik Silla secepatnya, maka menurut Wi Hwa festival itu kesempatan yang bagus karena seluruh negri akan fokus pada keluarga kerajaan. Apa maksud Wi Hwa adalah Hwarang akan tampil untuk raja?

“Hwarang akan tampil untuk rakyat.” Ujar Wi Hwa.

***

Bersambung ke bagian 2~

Komentar:

Awalnya, A Ro merasa rasa sukanya pada Sun Woo adalah karena Sun Woo adalah kakaknya. Tapi semakin lama, A Ro sadar rasa suka itu bukan rasa suka seorang adik pada seorang kakak. A Ro sadar dia tidak boleh punya perasaan itu pada kakaknya sendiri. Kemudian A Ro pun berharap kalau Sun Woo bukanlah kakak kandungnya. Tapi disisi lain, dia berharap Sun Woo adalah kakaknya yang selama ini dicari mati-matian oleh ayahnya. Jadi intinya, A Ro galau. XD

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya. Tapi mohon maaf komentar akan dimoderasi ya.. jadi gak akan langsung muncul di halaman post.. Dan pasti akan saya baca semua, walau tidak saya balas. XD